Rabu, 01 Desember 2010

PENDEKATAN DAN METODE/MODEL PEMBELAJARAN PKN SD

BAB I
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Setiap guru berkeinginan agar kegiatan pembelajran yang dilakukannya berhasil dengan baik dan membawa dampak pembelajaran yang signifikan bagi para siswanya. Agar harapan tersebut bisa diwujudkan dengan baik, sudah barang tentu guru harus memahami secara mamadai apa pendekatan dan metode/model pembelajaran yang tepat yang akan digunakan. Penentuan pendekatan dan metode pembelajaran Pkn SD merupakan salah satu factor penentu dalam mendukung keberhasilan pembelaajran PKn, disamping itu factor-faktor lainnya seperti keadaan siswa, dukungan sarana dan prasarana pembelajaran dan sebagainya.
Pendekatan berhubungan erat dengan strategi, metode dan teknik pembelajaran. Pendekatan merupakan titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran.Sedangkan strategi adalah serangkaian rencana, metode dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk tujuan tertentu. Metode adalah upaya yang dilakukan untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam kegiatan yang nyata untuk mencapai tujuan secara optimal. Sedangkan teknik pembelajaran adalah cara-cara operasional untuk melaksanakan metode pembelajaran. Selain itu seorang guru harus mengetahui dan memahami model-model pembelajaran. Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang) merancang bahan-bahan pembelajaran,dan membimbing pembelajaran dikelas atau yang lain.
RUMUSAN MASALAH
Permasalahan yang akan diuraikan dibatasi pada rumusan-rumusan berikut:
1. Bagaimana konsep dan prinsip pendekatan pembelajaran ?
2. Bagaimana prinsip-prinsip dalam penentuan pendekatan pembelajaran?
3. Bagaimana cirri-ciri model pembelajaran ?
TUJUAN
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui konsep dan prinsip pendekatan pembelajaran.
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dalam penentuan pendekatan pembelajaran.
3. Untuk mengetahui cirri-ciri model pembelajaran.
BAB II
PENDEKATAN DAN METODE/MODEL PEMBELAJARAN PKN SD
A. Konsep dan prinsip pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan guru atau dosen dalam menciptakan suasana atau situasi siswa belajar.Tujuan utama pembelajaran adalah agar siswa belajar.Sukmadinata (2007) mengatakan bahwa belajar merupakan proses mental yang dinyatakan dalam berbagai perilaku,baik perilaku fisik-motorik maupun psikis.Meskipun suatu kegiatan belajar merupakan kegiatan fisik-motorik (keterampilan),tetapi didalamnya terdapat kegiatan mental, namun kegiatan pisik-motoriknya lebih banyak dibandingkan dengan proses mentalnya.Pada kegiatan belajar yang bersifat psikis, seperti belajar intelektual, sosial-emosi, sikap, perasaan, nilai, segi fisik-motoriknya sedikit, sedangkan segi psikis atau mentalnya lebih banyak.Aspek-aspek perkembangan tersebut, biasa dibeda-bedakan tetapi tidak bisa dipisah-pisahkan secara jelas.Suatu aspek selalu ada kaitannya dengan aspek yang lainnya.
Peningkatan kualitas belajar mengajar merupakan suatu keniscayaanyang harus diwujudkan oleh guru.Kualitas belajar mengajar yang baik akan mendorong tercapainya hasil belajar yang memadai dan bermakna bagi siswa. Daalam konteks ini perlu diketahui dan dipahami oleh guru adanya sejumlah prinsip pembelajaran yaitu (a) perhatian dan motivasi; (b) keaktifan; (c) keterlibatan langsung; (d) pengulangan; (e) tantangan; (f) balikan dan penguatan, dan (g) perbedaan individual.
Prinsip perhatian dan motivasi
Perhatian, dalam konteks pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting sebagai langkah awal dalam memicu aktifitas-aktifitas belajar. Sedangkan motivasi berhubungan erat dengan minat. Motivasi dalam belajar merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan model pembelajaran. Motivasi belajar akan timbul lebih tinggi manakala siswa memiliki perhatian yang tinggi dalam kegiatan belajar. Sebaliknya motivasi siswa akan rendah manakala siswa kurang memiliki perhatian dalam kegiatan belajar.
Prinsip keaktifan
Belajar pada hakekatnya adalah proses aktif dimana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap pembelajaran.
Prinsip keterlibatan langsung
Setiap individu harus terlibat langsung untuk mengalaminya,bahwa setiap kegiatan belajar harus melibatkan diri setiap individu
Prinsip pengulangan
Dalam kaitan ini perlu dicermati dalil pembelajaran yang dikemukakan oleh Edward Thorndike tentang law of learning, yaitu law of effect, law of exercise, and law of readniss.
Prinsip Tantangan
Pembelejaran harus memberikan kesempatan yang luas bagi siswa untuk mencari dan menemukan konsep, teori, generalisasi, serta dalil dalam kegiatan pembelajaran. Dengan akses seperti itu, siswa akan tertantang untuk menemukan konsep, teori, generalisasi, dan dalil-dalil tersebut.
Prinsip balikan
Siswa akan belajar lebih semangat dan giat jika mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil belajar yang baik, tentu saja bagi siswa merupakan balikan yang menyenangkan sehingga akan semakin menopang semangat belajar siswa.
Prinsip perbedaan individual
Setiap individu memiliki perbedaan baik secara psikis maupun fisik-motorik, karena penting bagi guru untuk memahami perbedaan-perbedaan tersebut.
Pendekatan pembelajaran
Pendekatan berhubungan erat dengan strategi, metode dan teknik pembelajaran. Untuk memahami pengertian pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran tersebut, berikut akan diuraikan pengertian konsep-konsep tersebut.
Pendekatan (approach) merupakan titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Sedangkan strategi adalah serangkaian rencana, metode dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk tujuan tertentu (a plan of operation achieving something) . Metode adalah upaya yang dilakukan untuk mengimplementasikan rencana yang telah disusun dalam kegiatan yang nyata untuk mencapai tujuan secara optimal (a way in achieving something). Sementara itu, teknik pembelajaran adalah cara-cara operasional untuk melaksanakan metode pembelajaran.
Secara umum pendekatan pembelajaran dibagi atas 2 (dua) :
1. Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center)
2. Pendekatan pembelajaran yang berpusat kepada guru (teacher center)
Dalam pendekatan pembelajaran yang berpusat kepada siswa ,menempatkan siswasebagai subyek belajar atau pelaku utama dalam kegiatan pembelajaran. Siswa lebih dominan dan aktif dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan guru memfasilitasi jalannya kegiatan pembelajaran tersebut dengan baik atau bertindak sebagai fasilitator pembelajaran. Sementara itu, pendekatan pembelajaran yang berpusat kepada guru menempatkan siswa sebagai objek pembelajaran, karenanya siswa dalam posisi yang pasif. Hal ini terjadi karena guru sangat dominan atau pelaku utama dalam pembelajaran.
B. Prinsip-prinsip dalam penentuan pendekatan pembelajaran
Agar pembelajaran yang dilaksanakan berjalan dengan baik, maka penting bagi guru untuk memperhatikan secara cermat beberapa prinsip dalam penentuan atau pemilihan pendekatan pembelajaran, yaitu:
Menentukan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning), baik diri siswa saat ini maupun saat yang akan datang.
Menggunakan metode dan media yang bervariasi
Menggunakan pendekatan dan metode yang menempatkan siswa sebagai subjek atau pelaku belajar.
Memberikan pengalaman yang kaya, baik pengalaman mendapatkan, mengolah, dan mengembangkan,mengaplikasikan pengetahuan, teori dan konsep-konsep, maupun memecahkan masalah serta menenukan dan menghasilkan hal-hal baru.
Keseimbangan antara belajar teori dan praktek, di kelas, di luar kelas dan di lapangan.
Keseimbangan antara belajar secara klasikal, kelompok dan individual.
Memprioritaskan suasana pembelajaran yang aktraktif, motivated, koperatif dan bersahabat.
Kompetisi lebih diarahkan pada kompetisi dengan dirinya sendiri, kompetisi dengan orang lain secara sehat dan bersahabat dan tetap dalam suasana koperatif.
C. METODE/MODEL PEMBELAJARAN PKN
Model diartikan sebagai representasi suatu fenomena, baik nyata maupun abstrak, dengan menonjolkan unsure-unsur terpenting fenomena tersebut. Menurut Aubrey Fisher (dalam Mulyana, 2001) Model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsure, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model. Model adalah gambaran informal untuk menjelaskan atau menerapkan teori. Denagn kata lain, model adalah teori yang lebih disederhanakan.
Menurut Joyce dan Weil (1980) model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran dikelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa model pembelajaran merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Ciri-ciri model pembelajaran :
1. Berdasarkan pada teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
2. Mempunyai misi dan tujuan pendidikan tertentu. Misalnya model berpikir induktif untuk mengembangkan proses berpikir induktif.
3. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)dikelas. Misalnya model syntic dirancang untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang.
4. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan :(1) urutan langkah-langkah pembelajaran, (2) adanya prinsip-prinsip reaksi, (3) system sosial, dan (4) sistem pendukung.
5. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran.
6. Membuat persiapan mengajar dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.
Model-model Pembelajaran Interaktif
Pembelajaran dapat dikatakan interaktif jika para siswa terlibat secara aktif dan positif baik mental maupun fisik dalam keseluruhan proses kegiatan pembelajaran. Suparman (1997) mengemukakan karakteristik pembelajaran interaktif yaitu :
1. Terdapat variasi kegiatan baik klasikal, kelompok maupun perorangan.
2. Keterlibatan mental (pikiran dan perasaan) siswa yang tinggi.
3. Guru berperan sebagai fasilitator belajar, nara sumber (resource person), manajer kelas yang demokratis.
4. Menerapkan pola komunikasi banyak arah.
5. Suasana kelas yang fleksibel, demokratis dan menantang dab tetap terkendali oleh tujuan yang telah ditetapkan.
6. Potensi dapat menghasilkan dampak pembelajaran (inntructional effect) dan dampak pengiring (nurturant effect).
7. Dapat digunakan didalam dan atau diluar kelas/ruangan.
Selanjutnya Suparman (1997) membagi model-model pembelajaran efektif kedalam 3 bagian yaitu :
1. Model Berbagi Informasi, tujuannya menitikberatkan pada proses informasi dan diskusi melalui interaksi argumentative yang sarat penalaran. Yang termasuk kedalam model ini diantaranya :
a. Model Orientasi
b. Model Sidang Utama
c. Model Seminar
d. Model Konferensi Kerja
e. Model Simposium
f. Model Forum
g. Model Panel
2. Model Belajar Melalui Pengalaman, tujuannya menitikberatkan pada proses pelibatan dalam situasi yang member implikasi perubahan perilaku yang sarat nilai dan sikap sosial. Yang termasuk ke dalam model belajar melalui pengalaman, diantaranya :
a. Model Similasi
b. Model Bermain Peran
c. Model Sajian Situasi
d. Model Kelompok Aplikasi
e. Model Sajian Konflik
f. Model Sindikat
g. Model Kelompok T
3. Model Pemecahan Masalah, tujuannya menitikberatkan pada proses pengkajian dan pemecahan masalah melalui interaksi dialogis dalam situasi yang sarat panalaran induktif. Yang termasuk kedalam model pemecahan masalah, diantaranya :
a. Model Curah Pendapat
b. Model Riuh Bicara
c. Model Diskusi Bebas
d. Model Kelompok Okupasi
e. Model Kelompok Silang
f. Model Tutorial
g. Model Studi Kasus
h. Model Lokakarya
Untuk memperoleh pemahaman tentang model-model pembelajaran diatas berikut diuraikan secra singkat perihal hakekat dan tujuan masing-masing model pembelajaran.
a. Model Kelompok Orientasi
Model kelompok orientasi adalah suatu model pembelajaran melalui pengenalan programdan lingkungan belajar. Adapun yang dimaksud dengan program meliputi tujuan dan strategi pencapaiannya, sedangkan lingkungan belajar meliputi sarana belajar, nara sumber, sarana pendukung, dan termasuk tata tertib yang harus ditaati.
Model pembelajaran ini bertujuan untuk menjelaskan akan dicapai program dan strategi pembelajaran yang dibutuhkan. Keunggulan model ini antara lain mempersiapkan mental siswa agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, dab dapat menciptakan interaksi sosial dikalangan peserta didik, karena model ini dilakukan secara kelompok.
b. Model Sidang Umum
Model sidang umum merupakan model pembelajaran yang menunjukkan suatu bentuk procedural pengorganisasian interaksi belajar mengajar yang melibatkan pengajar dan peserta didik.
Model ini berpangkal pada :
Prinsip belajar kognitif, dimana proses belajar dicapai melalui proses asimilasi yakni menghubungkan pikiran denga informasi dari luar (objek), proses akomodasi yakni mengolah informasi dalam pikiran, member respons, dan mengulangi secara berdaur.
Prinsipkomunikasi interpersonal, dimana siswa dilatih untuk memiliki pengalaman dalam menyampaikan dan menerima informasi agar saling mengerti dan memahami informasi tersebut.
Prinsip pendidikan nilai (value education), dimana siswa dilatih untuk memperoleh pengalaman dalam menghayati nilai-nilai demokratis dan saling menghargai pendapat siswa.
c. Model Seminar
Model seminar merupakan model pembelajaran dimana terdapat sekelompok orang (siswa, guru, pakar) memiliki pengalaman dan pengetahuan mendalam dan saliang belajar berbagi pengalaman. Tujuannya agar siswa mampu berperan sebagai ahli dalam suatu bidang ilmu dan mampu berbagi pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya dengan sesame siswa lainnya.
d. Model Konfarensi Kerja
Model konferensi kerja merupakan model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam pertemuan besar dalam rangka merencanakan kegiatan, mendapatkan fakta, dan memecahkan masalah-masalah organisasi.Prinsip yang mendasari model ini adalah belajar langsung menghayati pertemuan agar siswa berpartisipasi aktif, pembentukan sikap saling menghormati,kerja sama dan tanggung jawab.
e. Model Simposium
Model symposium merupakan model pembelajaran yang memerankan siswa sebagi pakar dalam berbagai bidang untuk berlatih memecahkan suatu topic yang problematic. Melalui model ini dapat mengasah kemampuan berpikir siwa, menumbuhkan sikap terbuka dan tanggap terhadap sumber informasidan cara pandang orang lain.
f. Model Forum
Model pembelajaran ini mendasarkan diri pada prinsip berpikir kritis dan kreatif yang dikembangkan melalui proses diskusi yang demokratis dan toleran. Tujuan model ini adalah agar siswa dapat memberikan tanggapan atau pendapat yang beragam mengenai suatu permasalahan.
g. Model Diskusi Panel
Model diskusi panel merupakan model pembelajaran yang digunakan dalam mengorganisasikan interaksi belajar mengajardalam konteks pembahasan masalah controversial dilingkungannya. Model ini dapat dilakukan dalam bentuk nyata atau dalam bentuk simulatif, tergantung pada hakekat masalah yang dibahas dalam pembelajaran. Model pembelajaran ini merupakan untuk melatih siswa sebagai warga Negara untuk berpikir kritis dan sikap toleran terhadap masalah yang controversial baik dilingkungan sekolah maupun di masyarakat.
h. Model Simulasi
Model simulasi merupakan model pembelajaran yang menekankan peniruan pekerjaan yang menuntut kemampuan tertentu dari siswa sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dalam kegaiatan pembelajaran. Model ini bertujuan untuk member kesempatan untuk berlatih bagi siswa untuk menguasai keterampilan tertentu melalui situasi buatan sehingga siswa terbebas dari resiko pekerjaan berbahaya. Keterampilan yang dilatih pada hakekatnya berkenaan dengan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi kehidupan nyata.
i. Model Bermain Peran
Model pembelajaran ini sangat mirip dengan model pembelajaran simulasi. Model bermain peran intinya adalah simulasi atau tiruan dari perilaku yang diperankan. Model ini bertujuan untuk member kesempatan kepada siswa untuk berlatih menumbuhkan kesadaran dan kepekaan sosial serta sikap positif, juga menemukan alternative pemecahan masalah.
j. Model Sajian Situasi
Model sajian situasi merupakan model pembelajaran yang menggunakan simulasi sebagai pemicu belajar. Model sajian situasi bertujuan agar siswa melaksanakan kajian atau diskusi melalui analisis perilaku seseorang atau kelompok dalam suatu situasi yang disimulasikan, sehingga siswa dapat berpikir induktif dan deduktif secara interaktif, dan dapat memahami konsep secara lebih mudah dan bertahan lama karena terkait dengan dunia realitas dalam kehidupannya.
k. Model Kelompok Aplikasi
Model pembelajaran kelompok aplikasi merupakan salah satu model pembelajaran keterampilan melalui penerapan dalan situasi nyata. Model pembelajaran ini berdasar apada prinsip bahwa “belajar dapat bermakna apabila peserta didik dapat mengalaminya secra langsung dalam situasi nyata”. Dalam penerapan model ini melibatkan siswa pada kejadian yang dibenarkannya, seperti polisi kecil, dokter kecil dan sebagainya. Model ini bertujuan agar siswa dapat menerapkan informasi atau keterampilan dalam situasi nyata, sehingga dapat menimbulkan kesan mendalam pada diri siswa.
l. Model Kelompok Sindikat
Model pembelajaran kelompok sindikat merupakan model pembelajaran dimana siswa diminta untuk mencari suatu informasi yang belum jelas sumber dan tempatnya. Setelah informasi ditemukan kemudian didiskusikan, diteliti kebenarannya, lalu diinformasikan. Model ini bertujuan untuk melatih keterampilan siswa agar dapat menggali/mencari informasi, mendiskusikannya dengan sesame siswa, meneliti kebenarannya, serta menyejikan informasi dalam laporan ilmiah. Melalui model ini dapat mengembangkan sikap bertanggung jawab atas proses belajaranya sendiri.
m. Model Kelompok “T”
Dalam model ini sekelompok orang ditempatkan dalam suatu situasi tertentu, sedemikian rapa, sehingga setiap orang dalam kelompok itu merasakan adanya suatu kesatuan yang utuh dengan anggota lain dalam kelompoknya. Model pembeljaran ini sangat dipengaruhi oleh teori belajar humanistic yang sangat member perhatian pada pengembangan potensi manusia untuk menjadi manusia yang utuh atau memanusiakan manusia.
n. Model Curah Pendapat
Model pembelajaran curah pendapat merupakan model pembelajaran untuk mencari adan menemukan pemecahan masalah (problem solving). Model ini bertujuan untuk melatih siswa mengekspresikan gagasan-gagasan baru menurut daya imajinasinya, dan untuk melatih daya kreativitas berpikir siswa. Prinsip belajar yang digunakan sebagai landasan dalam penerapan model curah pendapat ini bahwa identifikasi gagasan secara kolektif akan lebih produktif dibandingkan dengan bila dilakukan secara individual.
o. Model Riuh Bicara
Model pembelajaran riuh bicara adalah model pembelajaran dimana siswa secara berkelompok membahas satu isu atau masalah dalam waktu ayang singkat. Dalam satu terdapat beberapa kelompok yang dalam waktu yang sama membahas masalah yang sama pula sehingga menimbulkan gaung diskusi yang diibaratkan sama dengan gaung lebah. Karenanya model ini dikenal dengan buzz group atau riuh bicara. (Wardani, 1997). Tujuan model ini adalah siswa dapat memantapkan pemahaman terhadap topic yang sedang dibahas karena merekadiberi kesempatan untuk membahasdalam kelompok kecil. Selian itu siswa dapat meningkatkan kemampuan menerapkan konsep dan pengetahuan baru, mensintesakan ide-ide bara bahkan menilai atau mengevaluasi. Secara emosional-sosial melalui model ini siswa belajar dalam kondisi yang santai, bebas dari tekanan, percaya diri serta memandang penting masalah yang dibahas.
p. Model Kelompok Diskusi Bebas
Model pembelajaran kelompok diskusi bebas merupakan model pembelajaran dimana siswa dineri kesempatan untuk menentukan topic dan arah diskusi. Model ini sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan berpikir divergent yakni kemampuan berpikir yang tidak hanya terpaku pada satu kemungkinan melainkan memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan dalam memecahkan suatu masalah yang dibahas dalam pembelajaran.
q. Model Okupasi
Model pembelajaran okupasi merupakan medel pembelajaran yang mengguanakan proses berbagi pengalaman dalam bidang pekerjaan yang sama. Tujuan model pembelajaran ini adalah melatih keterampilan memecahkan masalah melalui proses berbagi pengalaman dalm bidang pekjerjaan yang sama (Situmorang, 1997). Selain itu model ini dapat membantu siswa untuk memperkaya pengalaman-pengalaman dengan menyerap pengalaman orang lain.
r. Model Diskusi Kelompok Silang
Model pembelajaran inin adalah diskusi secara umum, dimana terdapt beberapa orang membicarakan suatu masalah untuk dipecahkan bersama. Pada umumnya, kelemahan diskusi adalah ada anggota yang aktif dan ada pula anggota yang cenderung diam/pasif atau tidak turut srta mengemukakan pendapatnya dalam kegiatan diskusi tersebut. Oleh karena melalui model pembelajaran ini setiap anggota bergantian secra terus menerus untuk berperan serta dalam kegiatan diskusi (irawan, 1997). Dengan begitu, akan dihasilkan berbagai alternative pemecahan masalash yang lebih banyak ketimbang hanya dihasilkan oleh beberapa orang saja.
s. Model Tutorial
Model pembelajaran tutorial merupakan model pembelajaran yang menitikberatkan pada pemberian bimbingan dan bantuan belajar oleh guru ataupun sesama siswa. Bimbingan dan bantuan yang diberikan agar siswa dapat saling member stimulus dan saling memacu intensitas belajar. Dengan demikian akan terwujud suasana kelas yang lebih dinamis dan demokratis.
t. Model Studi Kasus
Model tudi kasus merupakan model pembelajaran dimana guru memberikan deskripsi suatu situasi yang mengharuskan pelaku-pelaku dalam situasi tersebut mengambil keputusan tertentu untuk memecahkan suatu masalah.(Suciati, 1997). Model ini disajikan dalam bentuk cerita dengan komponen-komponen utama yaitu actor, kejadian/situasi, permasalahan dan informasi yang melatarbelakangi permasalahan tersebut. Model pembelajaran ini bertujuan untuk membelajarkan siswa melalui pengalaman dengan menggunakan contoh kasus/kejadian /situasi.
u. Model lokakarya
Model pembelajaran lokakarya merupakan wahana yang produktif untuk melatih keterampilan-keterampilan siswa antara lain penalaran dan penerapan, keterampilan sosial, dan psikomotorik. (Irawan, 1997). Atas dasar itu model lokakarya merupakan forum siswa atau peserta didik untuk belajar mengaplikasikan atau menerapkan segala sesuatu yang telah dipelajari secara teoritis sehingga menghasilkan sesuatu ayang nyata. Model ini bermanfaat bagi siswa dan guru yakni (1) memacu siswa dann guru untuk berpikir praktis dan realistic, (2) member kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama sesame siswa untuk dapat menghasilkan suatu karya bersama.
v. Model Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Sebagai suatu model pembelajaran, model pembelajaran kontekstual berupaya memfasilitasi kegiatann belajar siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat konkrit atau yang terkait dengan kehidupan nyata melalui pelibatan aktivitas belajar mencoba melakukan dan mengalami sendiri (learning by doing). Model pembelajaran kontekstual memiliki 7 (tujuh) prinsip pembelajaran, yaitu :
1) Kontruktivisme, merupakan filosofis yang melandasi pembelajaran kontekstual, dimana pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Dalam aliran ini, pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep atau kaidahyang siap untuk diambil dan diingat. Dalam hal ini manusia harus membangun pengetahuan itu dan member makna melalui pengalaman yang nyata.
2) Menemukan (inquiry), pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil dari menemukan sendiri. Oleh karena itu melalui model CTL ini siswa diberikan kesempatan untuk belajar menemukan sendiri maupun berkelompok melalui pengalaman belajar masing-masing.
3) Bertanya, melalui penerapan bertanya maka pembelajaran akan lebih hidup serta dapat mendorong proses dan hasil belajar yang lebih luas dan mendalam. Manfaat bertanya yakni: (1) dapat menggali informasi, (2) mengecek pemahaman siswa, (3) membangkitkan responn siswa, (4) mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa, (5) mengetahui hal-hal yang diketahui siswa, (6) memfokuskan perhatian siswa, (7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, (8) menyegarkan kembali pengetahuan yang telah dimiliki siswa. (Susilana, 2006).
4) Pemodelan (modelling), pembuatan model sebagai prinsip dari pembelajaran kontekstual merupakan alternative untuk mengembangkan pembelajaran agar guru dapat memenuhi harapan siswa secara menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatasan ynag dimiliki oleh guru sekaitan dengan tuntutan penyesuaian perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ragam harapan siswa terhadap kemampuan guru.
5) Refleksi (reflection), prinsip refleksi ini diperlukan agar pembelajaran dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna (meaningfull) bagi siswa. Kegiatan refleksi sangat penting agar siswa dapat menghayati apa yang telah diperolehnya dalam pembelajaran, bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehingga dengan demikian dapat mengembangkan jati dirinya (learning to be).
6) Masyarakat belajar (Learning community). Inti dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk bekerjasama dengan sesama siswa lainnya. Dengan bekerjasama tersebut siswa akan saling berbagi pengalaman dan hal ini memberikan dampak pembelajaran yang positif bagi siswa.
7) Penilaian sebenarnya (Autentic Assesment), penilaian merupakan proses pengumpulan berbagai informasi dan data yang dapat memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa. Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian tidak hanya dilakukan di akhir program pembalajaran melainkan secara integral dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian guru akan mengetahui secara nyata bagaimana tingkat kemampuan dan kemajuan siswa yang sebenarnya.
BAB III
KESIMPULAN
Pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan guru atau dosen dalam menciptakan suasana atau situasi siswa belajar. Tujuan utama pembelajaran adalah agar siswa belajar. (Sukmadinata, 2007) mengatakan bahwa belajar merupakan proses mental yang dinyatakan dalam berbagai perilaku, baik perilaku fisik-motorik maupun psikis.
Kualitas belajar mengajar yang baik akan mendorong tercapainya hasil belajara yang memadai dan memakna bagi siswa. Dalam kontyeks inilah perlu diketahui dan dipahami oleh guru adanya sejumlah prinsip pembelajaran yaitu perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, dan perbedaan individu.
Agar pembelajaran dilaksanakan berhasil dengan baik, maka penting bagi guru untuk memperhatikan secara sermat beberapa prinsip dalam penentuan/ pemilihan pendekatan pembelajaran. Sedangkan model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Dengan demikian model pembelajaran merupakan pola umum perilaku pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.

1 komentar:

  1. selamat atas terbitnya blog ini semoga bermanfaat terutama para Guru yang masih mempunyai naluri keguruan

    BalasHapus